Tradisi Pengerebongan di Kesiman, Denpasar

September 30, 2011 Leave a comment

Halo para pembaca sekalian, sudah lama saya tidak mengupdate blog saya ini karena sibuk dan tidak ada waktu untuk update blog saya ini. Sekarang, saya akan membahas tentang Tradisi “Pengerebongan”.

Pengerebongan adalah tradisi yang biasanya diadakan 10 hari setelah hari raya Kuningan (kalau tidak salah)hehehe. Upacara ini diadakan di Kesiman, Denpasar atau lebih jelasnya di Pura Petilan. Upacara ini tergolong dalam upacara Bhuta Yadnya atau pecaruan. Upacara itu bertujuan untuk mengingatkan umat Hindu melalui media ritual sakral untuk memelihara keharmonisan hubungan antarmanusia dengan Tuhannya, antara manusia dengan sesama umat manusia dan dengan alam lingkungannya. Upacara Pengerebongan diawali dengan upacara Nyanjan dan Nuwur. Tujuan upacara ini untuk memohon kekuatan suci batara-batari agar turun melalui pradasar-nya dari para umat. Umumnya para pengusung rangda dan pepatihnya setelah dilakukan upacara Nyanjan dan Nuwur itu dalam keadaan kerauhan. Setelah itu semua barong dan rangda serta pepatih yang dalam keadaan kerauhan tersebut keluar dan mengelilingi areal wantilan pura tersebut sebanyak 3 kali. Setelah upacara selesai, semuanya akhirnya kembali ke areal utama pura tersebut.

Categories: Uncategorized

Layangan Tradisional Tanah Lot Curi Perhatian Penonton

August 7, 2011 Leave a comment

Tabanan (Antara Bali) – Lomba layang layang pada “Tanah Lot Art Festival 2010” yang menampilkan para pelayang tradisional di Bali, mampu menarik perhatian wisatawan domestik dan asing.

“Hari pertama ini diadakan lomba layangan tradisional dan ratusan penonton langsung memadati lokasi lomba untuk memberi dukungan kepada kelompok-kelompok peserta,” kata Ketua Panitia “Tanah Lot Art Festival”, I Made Sujana, Sabtu.

Memasuki hari pertama lomba layang layang, jumlah layangan yang diikutkan bertanding sebanyak 80 buah.

Lomba yang dimulai pukul 11.00 Wita dibagi dalam enam sesi untuk mempermudah penilaian, meliputi jenis “pecukan”, “bebean” dan “janggan” .

Kebanyakan peserta lomba berasal dari Kabupaten Tabanan, Badung, Gianyar, dan Kota Denpasar serta beberapa peserta dari Kecamatan Marga, Kerambitan, Canggu, Kuta, Sanur, Pipitan, Sesetan, Uluwatu dan dari beberapa kecamatan di Gianyar.

Saat lomba layang layang digelar, panitia mencatat kecepatan angin berkisar 19 – 21 kilometer per jam, sehingga dinilai mendukung layang layang yang akan mengudara ke langit.

Banyaknya pengunjung, menurut Sujana, tidak sampai menimbulkan kemacetan arus lalu lintas kendaraan di jalur menuju obyek wisata terkenal di dunia itu.

Hal itu tidak lepas dari pengaturan panitia yang mengharuskan peserta lomba untuk membawa layangan mereka satu hari sebelum dimulai lomba.

“Langkah itu kami lakukan untuk mengantisipasi kemacetan lalu lintas seperti terjadi di tahun tahun sebelumnya sehingga banyak pengunjung yang ingin menonton tetapi gagal mencapai lokasi,” sebut Sujana yang juga Manager Operasional Objek Wisata Tanah Lot.

Berdasar pantauan, suasana di lapangan terlihat ramai dan meriah karena dipenuhi para penonton yang berbaur dengan peserta. Meski di bawah terik matahari, namun mereka tetap semangat dan antusias melihat selama lomba berlangsung.

Lomba hari itu berakhir pukul 16:00 Wita dan dijadwalkan dilanjutkan Minggu (1/8) pada jam yang sama.

Pada hari kedua, jumlah layangan yang diadu terbang di udara sebanyak 200 buah, dan kedatangan penonton diperkirakan lebih ramai.

“Kami perkirakan penontonnya jauh lebih banyak karena bertepatan hari Minggu. Kalangan pelajar bisa ikut bermain layang-layang sekaligus menonton festival,” tambah Sujana.(*)

Categories: Uncategorized

Alasan Mengapa Tikus Sering Digunakan Untuk Riset Ilmiah

June 15, 2011 Leave a comment

Tahukah Anda mengapa tikus sering kali digunakan dalam berbagai percobaan medis?
Ternyata tikus memiliki peran sangat penting dalam percobaan medis. Mulai dari perumusan obat kanker baru hingga pengujian suplemen makanan, tikus berperan penting dalam keajaiban medis baru.

Bahkan, menurut Foundation for Biomedical Research (FBR), 95% hewan laboratorium adalah tikus. Ilmuwan dan peneliti bergantung pada tikus karena beberapa alasan. Salah satunya, pengerat ini kecil, mudah disimpan dan dipelihara serta bisa beradaptasi baik dengan lingkungan baru.
Hewan ini berkembang biak dengan cepat dan berumur pendek (2-3 tahun) sehingga beberapa generasi tikus dapat diamati dalam waktu singkat.

Selain itu, tikus relatif murah dan dapat dibeli dalam jumlah besar dari produsen komersial yang mengembang biakkan pengerat khusus untuk penelitian. Umumnya, tikus patuh dan hewan ini mudah ditangani peneliti, meski ada beberapa jenis sulit ditangani.
Sebagian besar tikus percobaan medis hampir identik secara genetis, kecuali jenis kelamin. Menurut National Human Genome Research Institute, hal ini membantu menyeragamkan hasil percobaan medis. Sebagai syarat minimum, tikus memiliki ras sama.

Alasan lain tikus digunakan sebagai model uji medis adalah genetik mereka, karakteristik biologi dan perilakunya sangat mirip manusia, dan banyak gejala kondisi manusia dapat direplikasi pada tikus.
“Tikus merupakan mamalia yang memiliki banyak proses seperti manusia dan bisa digunakan menjawab pertanyaan banyak penelitian,” kata perwakilan National Institutes of Health (NIH) Office of Laboratory Welfare Jenny Haliski.
Selama dua dekade terakhir, kesamaan itu makin kuat. Kini, ilmuwan dapat mengembangkan ‘tikus transgenik’ yang membawa gen mirip penyebab penyakit manusia. Tikus juga membuat penelitian efisien karena anatomi, fisiologi dan genetikanya dipahami dengan baik oleh peneliti.
Beberapa tikus SCID (severe combined immune deficiency) secara alami terlahir tanpa sistem kekebalan tubuh dan dapat menjadi model penelitian jaringan normal dan ganas manusia. Berikut contoh gangguan manusia dimana tikus digunakan sebagai modelnya.
Hipertensi, diabetes, katarak, obesitas, kejang, masalah pernapasan, ketulian, parkinson, alzheimer, kanker, cystic fibrosis, HIV dan AIDS, penyakit jantung, muscular dystrophy, cedera kabel spinal.
Tikus juga digunakan untuk pengujian obat anti-kecanduan yang berpotensi mengakhiri kecanduan narkoba.
“Menggunakan hewan penting untuk pemahaman ilmiah sistem biomedis yang mengarah ke obat, terapi dan penyembuhan yang berguna,” kata Haliski.

Sumber:bloggerberita.blogspot.com

Categories: Uncategorized

Ogoh-ogoh 2011

March 9, 2011 Leave a comment

yak……memang hari raya Nyepi sudah lewat…dan Ogoh-ogoh pun sudah dibakar semua.Tapi saya akan membahas beberapa tentang Ogoh-ogoh tahun ini.

Setelah saya cari di youtube.com saya mendapat banyak video ogoh-ogoh dan saya akan memilih beberapa yang bagus dan bisa di download!!!

Sekian!!!

Categories: Uncategorized

Ogoh-ogoh

February 22, 2011 Leave a comment

Haii blogger!!! tak terasa hari raya Nyepi sudah dekat yaa….. .Ya,Nyepi identik dengan ogoh-ogoh kan.Sekarang Saya akan membahas tentang ogoh-ogoh.Enjoy…

Klik disini

Semoga bermanfaat yaaa

Categories: Uncategorized

Banaspatiraja Perwujudan Dewa Bhairawi

December 30, 2010 Leave a comment

Banaspatiraja adalah tokoh Dewa yang demikian penting dan menyita banyak perhatian umat Hindu di Bali. Beliau bukanlah tokoh satu dimensi yang gampang dipahami, melainkan tokoh multidimensi yang dapat muncul dimana-mana dan selalu berhubungan dengan kekuatan yang menyeramkan. Dengan kata lain, Banaspatiraja tidak hanya berhubungan dengan Pura Dalem dan Mrajapati, namun juga berhubungan dengan Pura Puseh dan Pura Desa. Di kedua pura ini, banaspatiraja distanakan di Balai Agung. Jika di Pura Dalem kedudukan beliau dihubungkan dengan konsep triodasasaksi atau tri purusa, sedangkan di Pura Puseh dihubungkan dengan istadewatanya Ida Sanghyang Bhagawati. Dari bale agung ke perempatan agung beliau menjadi Catur Bhuana atau Catur Muka. Dari perempatan agung ke marga tiga (simpang tiga) beliau menjadi Jagasatru dan dari marga tiga ke prajapati beliau sebagai Dhurga dalam bentuk Bhairawi berwujud banaspatiraja. Setelah itu, baru kepemuwunan atau huluning setra sebagai Bhairawi dengan wujud Rangda.

Banaspatiraja Perwuju Dan Dewa Bhairawi Banaspatiraja sebagai simbol penghormatan kepada kekuatan alam, antara lain untuk menjaga pohon kayu yang besar seperti beringin, kepah, kepuh, rangdu agar tidak ditebang seenaknya. Penghormatan yang paling nyata, adalah menggunakan kayu-kayu tersebut sebagai bahan barong. “Barong dapat dinyatakan sebagai rohnya purusa dan rangda sebagai pradana, banaspati atau saktinya”.

Banaspatiraja tentu saja tidak hanya berhubungan dengan pohon kayu yang besar. Dalam Catur Sanak sebagaimana diungkapkan, Anggapati menghuni badan manusia dan mahluk lainnya; ia berwenang mengganggu manusia yang keadaannya sedang lemah atau dimasuki nafsu angkara murka. Mrajapati adalah penghuni kuburan dan perempatan agung yang berhak merusak mayat yang ditanam melanggar waktu dewasa. Juga ia boleh menganggu orang yang memberikan dewasa yang bertentangan dengan ketentuan upacara. Banaspati menghuni sungai, batu besar yang berwenang menganggu atau memakan orang yang berjalan ataupun tidur pada waktu-waktu yang dilarang oleh sang kala, misalnya tengai tepet, atau sandikala. Banaspatiraja adalah penghuni kayu-kayu besar yang berwenang memakan orang yang menebang kayu atau menaiki pohon pada waktu yang terlarang oleh dewasa. Kata Banaspati Raja dan Banaspati, dapat dinyatakan simbol Pradana dan Purusa, pengertian yang serba dua; Lingga dan Yoni, Dewa dan Dewi, dll. Banaspati Raja dan Banaspati dapat ditelusuri dalam Veda, Upanisad, Lontar-lontar, dan di masyarakat.

Banaspati sesungguhnya ada dalam Veda, Upanisad, dan Lontar, yang mana konsep dasarnya adalah kekuatan alam kosmis, yang dapat dinyatakan sebagai apapun sesuai dengan kemampuan manusia memahaminya. Dia dikatakan sebagai roh jahat, karena seperti itulah kemampuannya untuk memahami kekuasaan Tuhan. Padahal Tuhan adalah pengendali utama dalam segala bidang.

Lontar Kanda Pat Bhuta menguraikan bahwa; Anggapati, lahir dari mulut rupanya putih suaranya UH, letaknya di timur, berwujud kala/nafsu di badan sendiri. Sebagai makanan ia boleh memakan manusia bila keadaannya sedang dipenuhi nafsu angkara murka. Mrajapati, lahir dari hidung rupanya merah, suaranya EH, letaknya di selatan dan penguasa setra gandhamayu (Dhurga) serta perempatan jalan. Sebagai makanannya adalah bangkai / mayat yang ditanam melanggar waktu atau hari-hari yang terlarang oleh padewasaan. Banaspati, lahir dari soca/permata, warnanya hitam, suaranya AH, lalu menjadi api hitam, tempatnya di barat, diwujudkan berupa jin, setan, tonya, penjaga sungai, tempat keramat dan sebagainya. Sebagai makanannya ialah orang yang lewat atau berjalan ataupun tidur pada waktu yang dilarang oleh kala, misalnya tengah hari (kali tepet) atau sandikala. Banaspati Raja, lahir dari telinga, warnanya kuning, suaranya AH menjadi api yang kuning, diwujudkan sebagai barong dan menjaga kayu besar/hutan; kepah, kepuh, rangdu dan lain-lain. Sebagai makanannya boleh memakan orang yang menebang kayu atau naik pohon pada waktu terlarang oleh padewasan.

Menurut Devi Purana, Dewa Siva berdoa kepada-Nya dan diberkati dengan delapan kekuatan tertinggi. Dan karena beliaulah, Deva Siwa dalam perwujudan-Nya sebagai Ardhanariswara, setengah pria setengah wanita (Acintya). Rsi Vyasa (Bhagawan Biasa, editor Catur Weda) menyatakan bahwa Durga merupakan simbol dari kekuatan yang merupakan kekuasaan tertinggi. Durga menginspirasikan mausia dalam tugas, pekerjaan, usaha, petualangan dan industri.

Banaspatiraja Perwuju Dan Dewa Bhairawi Membicarakan tentang Banaspatiraja tidak bisa dipisahkan dari Anggapati, Prajapati dan Banaspati. Sebab ini erat kaitannya dengan catur sanak yang ada di bhuana agung maupun bhuana alit. Yang disebut dengan catur sanak lebih dikenal dengan saudara empat yakni : Anggapati, Prajapati, Banaspati, dan Banaspatiraja. Ini semua termuat dalam lontar kanda pat, siwa gama, kala tatwa maupun gong besi. Di dalam lontar kanda pat, saudara empat ini sangat berhubungan dengan kehidupan manusia khususnya Bali. Bali sendiri mempunyai akulturasi budaya yang sangat hebat ini dapat dilihat dari tatanan upacara keagamaan di masyarakat.

Hindu di Bali sudah mengalami proses demikian panjang melalui sentuhan seni dan penyatuan ajaran-ajaran yang berkembang di Bali. Demikian yang diungkapkan oleh Banaspatiraja tidak dapat dipisahkan begitu saja dengan yang lainnya, Anggapati, Prajapati, maupun Banaspati. Kalau dilihat dari bhuana alit (diri manusia) catur sanak ini erat kaitannya dengan organ-organ tubuh manusia seperti Anggapati (jantung, dengan warna putih), Prajapati (hati) dengan warna merah, Banaspati (usus) dengan warna kuning, dan Banaspatiraja (limpa, empedu) dengan warna hitam.

Dalam lontar gong besi juga hampir sama dengan kanda pat dan siwa gama. Untuk Bhuana Agung ini dapat dilihat dari Pengider-ider yang dipakai oleh masyarakat dalam upacara keagamaan seperti anggapati dengan ista dewata Iswara, senjata bajra menghadap ke timur, Prajapati, Ista Dewata Brahma, senjata gada menghadap ke selatan, Banaspati, Ista Dewata Mahadewa, senjata pasa menghadap ke barat, dan banaspatiraja ista dewata Wisnu, senjata cakra, menghadap ke utara. Ini yang ada di Bhuana Agung, termuat dalam lontar Gong Besi, dan Siwa Tatwa. Secara khusus Banaspatiraja adalah lambang Wisnu sebagai pemelihara dan empedu dalam tubuh mansuia. Wanakertih suatu upacara simbolis kepada alam khususnya hutan dengan ista dewata Sangkara atau Mahadewa.

Seperti yang kita ketahui Hindu di Bali telah mendapatkan beberapa pengaruh yang akhirnya bergabung dalam Siwa Sidhanta. Khusus mengenai Catur Sanak ini mendapatkan pengaruh dari ajaran Tantrayana yang bersumberkan pada mantra dan kekuatan di Bali berkembang menjadi Bairawa, khusus mengenai kesaktian yang muncul menjadi penengen dan pengiwa. Untuk Banaspatiraja kena pengaruh juga dari Bhairawa, maka simbulnya adalah Barongket dengan warna bulunya hitam.

Jadi semua kena pengaruh Bhairawa atau dalam filosofinya kekuatan Dhurga digambarkan sebagai kekuatan pengiwa dan penengen (positif dan negativ). Pada kekuatan positif (Penengen) inilah Banaspatiraja berada, yang berada di Prajapati saja. Sedangkan kekuatan negatifnya (pengiwa) adalah rangda sebagai induknya yang sering dimainkan di Setra. Karena beliau mempunyai sisya para leak.

Categories: Uncategorized

TUMPEK WAYANG… KELAHIRAN ANAK DAN WAYANG SAPUH LEGER

November 24, 2010 2 comments

Ada sebuah fenomena menarik di Bali berkenaan tentang kelahiran anak pada hari yang dianggap keramat yaitu pada waktu wuku Wayang. Fenomena tersebut diyakini oleh orang

Bali bahwa yang dilahirkan pada hari tersebut patutlah diupacarai lukatan besar yang disebut sapuh leger. Bagi anak yang diupacarai lahir bertepatan dengan waktu itu dimaksudkan supaya ia terhindar dari gangguan (buruan) Dewa Kala.

Menurut lontar Sapuh Leger dan Dewa Kala, Batara Siwa memberi izin kepada Dewa Kala untuk memangsa anak/orang yang dilahirkan pada wuku Wayang (cf. Gedong Kirtya, Va. 645). Atas dasar isi lontar tersebut, apabila diantara anaknya ada yang dilahirkan pada wuku Wayang, demi keselamatan anaknya itu, semeton Bali berusaha mengupacarainya dengan didahului mementaskan Wayang Sapuh Leger berikut aparatusnya dipersiapkan jauh lebih banyak (berat) dari perlengkapan sesajen jenis wayang lainnya.

Menurut sistem perhitungan wuku, satu siklus lamanya 210 hari, karena tiap wuku lamanya 7 hari (Saptawara) dikalikan banyaknya wuku yang berjumlah 30 jenis. Satu bulan wuku lamanya 35 hari, dan setiap akhir bulan wuku itu disebut tumpek. Sehingga ada 6 jenis tumpek yaitu Tumpek Landep, Tumpek Pengarah, Tumpek Krulut, Tumpek Kuningan, Tumpek Kandang, dan Tumpek Wayang. Perhitungan Saptawara kemudian dikombinasikan pula dengan Pancawara (lima hari) dan setiap tumpek adalah jatuh pada Kliwon. Makanya, Tumpek Kliwon dirayakan secara besar di seluruh Bali, seperti Tumpek Kliwon Kuningan yang merupakan rentetan hari raya Galungan, dan diakhiri dengan Tumpek Kliwon Wayang.

Tiap anak yang lahir pada Tumpek Wayang, terutama pada Saniscara Kliwon Tumpek Wayang akan diadakan pergelaran Wayang Sapuh Leger. Kedudukan hari-hari tersebut secara spasial sangat sakral karena merupakan rentetan terakhir dari tumpek yang menurut anggapan orang Bali adalah angker dan berbahaya, karena hari itu dikuasai oleh butha dan kala. Secara mitologis wuku Wayang dianggap sebagai salah satu wuku yang tercemar/kotor, karena pada waktu inilah lahirnya seorang raksasa bernama Dewa Kala sebagai akibat pertemuan (sex relation) yang tidak wajar antara Batara Siwa dan istrinya, Dewi Uma. Mereka melakukan tidak pada tempatnya yang disebut kama salah.

Dari karakteristik hari-hari tersebut, masyarakat Bali percaya bahwa setiap anak yang lahir pada wuku Wayang harus mendapatkan penyucian yang khusus dengan upacara sapuh leger serta menggelar wayang. Pertunjukan wayang kulit yang ada sampai saat ini kenyataannya tidak dapat dilepaskan dengan upacara ritual dengan cerita mitologi. Hal ini dikisahkan karena isinya dianggap bertuah dan berguna bagi kehidupan lahir dan batin yang dipercayai serta dijunjung tinggi oleh pendukungnya.

Hipotesis yang menguatkan tentang latar belakang upacara nyapuh leger dengan media wayang kulit pada Tumpek Wayang adalah data sastra dalam naskah lontar. Salah satunya lontar Kala Purana berbunyi: ”… Muwah binuru sang Pancakumara; katekang ratri masa ning tengah wengi. Hana dalang angwayang, nemoning tumpek wayang, sang anama Mpu Leger. Sampun angrepakena wayang, saha juru redep/ gender/nya, wus pada tinabeh, merdu swaranya, manis arum….”.

Artinya, setelah dikejar sang Pancakumara oleh Dewa Kala, sampai menjelang tengah malam ada seorang pria/dalang bernama Mpu Leger mempertunjukkan wayang pada waktu Tumpek Wayang. Setelah menghadap di depan kelir segera juru gender membunyikan gamelannya, suaranya merdu dan nyaring….

Gelar Wayang Sapuh Leger pada saat Tumpek Wayang bersifat religius, magis, dan spiritual, yang berhubungan dengan wawasan mitologis, kosmologis, dan arkhais, sehingga memunculkan simbol-simbol yang bermakna bagi penghayatan dan pemahaman budaya masyarakat Bali. Simbol-simbol tersebut terungkap baik lewat lakon, sajian artistik, fungsi, sarana, dan prasarana yang digunakan. Sedangkan maknanya mengendap dan menjadikan sistem nilai budaya yang berfungsi sebagai pedoman tinggi bagi kelakuan manusia Bali. Dalam konteks ritual, Wayang Sapuh Leger berfungsi sebagai pemurnian (furikasi) bagi anak/orang yang lahir pada hari yang oleh orang Bali dianggap berbahaya yaitu pada wuku Wayang, sehingga ia berfungsi sebagai pengukuhan atau pengesahan dari bentuk ritual keagamaan dan institusi-institusi sosial budaya masyarakat Bali. Karena salah satu perwujudan dari sistem religi mempunyai fungsi sosial untuk mengintensifkan solidaritas komunitasnya.

Tumpek Wayang juga bermakna ”hari kesenian” karena hari itu secara ritual diupacarai (kelahiran) berbagai jenis kesenian seperti wayang, barong, rangda, topeng, dan segala jenis gamelan. Aktivitas ritual tersebut sebagai bentuk rasa syukur terhadap Sang Hyang Taksu sering disimboliskan dengan upacara kesenian wayang kulit, karena ia mengandung berbagai unsur seni atau teater total. Dalam kesenian ini, semua eksistensi dan esensi kesenian sudah tercakup.

***

Tumpek Wayang dan drama ritual wayang diamati dari aspek filosofinya, berorientasi temporal, spasial dan spiritual. Secara temporal pertunjukan Wayang Sapuh Leger diselenggarakan pada saat-saat tertentu yaitu pada Tumpek Wayang, sehingga mitologi sapuh leger mengharuskan masyarakat Hindu di Bali percaya bahwa dilarang bepergian pada tengai tepet (tengah hari), sandyakala (sore hari), dan tengah lemeng (tengah malam). Oleh karena diyakini waktu-waktu tersebut adalah waktu transisi yang sering mengancam keamanan seseorang saat melakukan perjalanan.

Tumpek Wayang itu sendiri merupakan tumpukan dari waktu-waktu transisi dan hari itu jatuh pada Sabtu/Saniscara Kajeng Kliwon, Wayang. Saniscara merupakan hari terakhir dalam perhitungan Saptawara; Kajeng adalah hari terakhir dalam perhitungan Triwara; dan Kliwon merupakan hari terakhir dalam perhitungan Pancawara. Sedangkan Tumpek Wayang adalah tumpek terakhir dari urutan enam tumpek yang ada dalam siklus kalender pawukon Bali. Dengan demikian dapat disimpulkan, Tumpek Wayang menjadi hari yang penuh dengan waktu-waktu peralihan, dan oleh karenanya anak-anak yang lahir pada saat ini ditakdirkan menderita karena mengalami gangguan emosi dan menyusahkan orang lain.

Untuk melawan akibat keadaan yang tidak menguntungkan itu, orang Bali melakukan upacara ”penebusan dosa khusus” yang dinamakan lukatan sapuh leger, dengan harapan Hyang Widhi akan menganugerahkan nasib baik pada anak itu dan menjamin bahwa hari ”lahir yang tidak baik” itu tidak akan berpengaruh buruk pada perkembangan selanjutnya.

Kata ”kala” secara etimologi berarti waktu, ketika, saat, zaman. Jadi Batara Kala artinya dewa waktu atau penguasa waktu. Dari asal-usul etimologi tersebut, dapat disimpulkan bahwa mitos sapuh leger mengandung ajaran, petunjuk, dan pesan yang berdimensi temporal, yakni hendaknyalah orang dapat menguasai waktunya (sendiri) dan tidak membuang-buang waktu untuk perbuatan yang tak ada manfaatnya bagi diri sendiri, keluarga maupun masyarakat luas. Mengatur waktu dengan sebaik-baiknya, niscaya akan besar sekali mengaruhnya bagi keselamatan dan kesejahteraan. Amanat yang terkandung dalamnya adalah bersifat korektif berupa peringatan kepada umat manusia untuk menghargai waktu (kala), dan mewaspadai pertemuan ”transisi” dua kutub, akibatnya membawa pengaruh positif maupun negatif. Pengaruh positif apabila dua komunitas terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna, komunikasi akan berjalan baik. Apabila sebaliknya, akan terjadi miskomunikasi yang bisa berdampak negatif.

* I Dewa Ketut Wicaksana, SPP., H.Hum.,
dosen pedalangan STSI Denpasar

Sumber : Balipost

Categories: Uncategorized
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.